Tampilkan postingan dengan label askep anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label askep anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

leaflet nutrisi

Leaflet Nutrisi                                                                   

materi gagal nafas

gagal nafas- anak                                                                   

materi bblr

BBLR                                                                   

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS KELAINAN JANTUNG BAWAAN ASD, VSD, KOARTASIO AORTA DAN BRONCHOPNEMONI


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN KELAINAN JANTUNG BAWAAN
ASD, VSD, KOARTASIO AORTA DAN BRONCHOPNEMONI

I.        PENGERTIAN
1.      ASD ( Atrial Septum Defek) adalah kelainan jantung bawaan akibat adanya lubang pada septum interatrial. Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
a.       ASD Sekundum, bila lubang terletak di daerah fossa ovallis.
b.      ASD Primum, bila lubang terletak didaerah ostium primum (termasuk salah satu bentuk defek septum atrioventrikulare).
c.       Defek sinus venosus, bila lubang terletak didaerah venosus (dekat muara vena kava superior dan inferior).

2.      VSD (Ventrikulare Septum Defek) adalah suatu keadaan dimana ventrikel tidak terbentuk secara sempurna sehingga pembukaan antara ventrikel kiri dan kanan terganggu, akibat darah dari bilik kiri mengalir kebilik kananpada saat sistole.
Besarnya defek bervariasi mulai dari ukuran milimeter (mm) sampai dengan centi meter (cm), yaitu dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a.       VSD kecil : Diameter sekitar 1 – 5 mm, pertumbuhan anak dengan kadaan ini masih normal walaupun ada kecenderungan terjadi infeksi saluran pernafasan.
b.      VSD besar / sangat besar : Diameter lebih dari setengah dari ostium aorta, tekanan ventrikel kanan biasanya meninggi.

3.      KOARTASIO AORTA  adalah kelainan yang terjadi pada aorta berupa adanya penyempitan didekat percabangan arteri subklavia kiri dari arkus aorta dan pangkal duktus arteriousus battoli.

4.      BRONCHOPNEMONIA
Pnemoni adalah proses inflamasi pada parenkin paru
Bronchopnemoni adalah proses dari pnemoni yang dimulai dari bronkus dan menyebar kejaringan paru sekitarnya, hal ini menyebabkan adanya gangguan ventrikel
II.      ETIOLOGI
1.      Kelainan Jantung Bawaan  : ASD, CSD, KOARTASI AORTA
Penyebab utama secara pasti tidak diketahui, akan tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit ini yaitu : Pada saat hamil ibu menderita rubella, ibu hamil yang alkoholik, usia ibu saat hamil lebih dari 40 tahun dan penderita IDDM.
2.      Bronchopnemoni
Beberapa agent penyebab terjadinya Bronchopnemoni yaitu :
·        Protozoa (pnemoni cranii)
·        Bakteri
·        Vival atau jamur pnemoni

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS THALASEMIA


THALASEMIA



A.     PENGERTIAN

Thalasemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan yang ditandai oleh defisiensi produksi rantai globin pada hemoglobin.

Macam – macam Thalasemia :
1.      Thalasemia beta
Merupakan anemia yang sering dijumpai yang diakibatkan oleh defek yang diturunkan dalam sintesis rantai beta hemoglobin.
Thalasemia beta meliputi:
a.       Thalasemia beta mayor
Bentuk homozigot merupakan anemia hipokrom mikrositik yang berat dengan hemolisis di dalam sumsum tulang dimulai pada tahun pertama        kehidupan.Kedua orang tua merupakan pembawa “ciri”. Gejala – gejala bersifat sekunder akibat anemia dan meliputi pucat, wajah yang karakteristik akibat pelebaran tulang tabular pada tabular pada kranium, ikterus dengan derajat yang bervariasi, dan hepatosplenomegali.    
b.      Thalasemia Intermedia dan minor
Pada bentuk heterozigot, dapat dijumpai tanda – tanda anemia ringan dan splenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan kadar Hb bervariasi, normal agak rendah atau meningkat (polisitemia). Bilirubin dalam serum meningkat, kadar bilirubin sedikit meningkat.
2.      Thalasemia alpa
Merupakan thalasemia dengan defisiensi pada rantai a

B.     ETIOLOGI

Faktor genetik

C.     PATOFISIOLOGI

      Hemoglobin paska kelahiran yang  normal terdiri dari dua rantai alpa dan beta polipeptide. Dalam beta thalasemia ada penurunan sebagian atau keseluruhan dalam proses sintesis molekul hemoglobin rantai beta. Konsekuensinya adanya peningkatan compensatori dalam proses pensintesisan rantai alpa dan produksi rantai gamma tetap aktif, dan menyebabkan ketidaksempurnaan formasi hemoglobin. Polipeptid yang tidak seimbang ini sangat tidak stabil, mudah terpisah dan merusak sel darah merah yang dapat menyebabkan anemia yang parah. Untuk menanggulangi proses hemolitik, sel darah merah dibentuk dalam jumlah yang banyak, atau setidaknya bone marrow ditekan dengan terapi transfusi. Kelebihan fe dari penambahan RBCs dalam transfusi serta kerusakan yang cepat dari sel defectif, disimpan dalam berbagai organ (hemosiderosis).

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS GANGGUAN KARDIOVASKULER: TETRALOGI FALLOT


ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KARDIOVASKULER:
TETRALOGI FALLOT



A.      KONSEP PENYAKIT
1.       DEFINISI
Adalah suatu penyakit jantung congenital dengan sianosis yang merupakan kombinasi dari 4 gejala utama yaitu: (1) obstruksi aliran ke luar dari bilik kanan (stenosis pulmonalis), (2) cacat septum ventrikel, (3) posisi sebelah kanan dari aorta dan (4) hipertrofi ventrikel kanan bersama – sama membentuk tetralogi fallot.

2.       PATOFISIOLOGI

Pengembalian vena sistemis
 


   Atrium kanan                      Ventrikel kanan
 


                          Menguncup à   stenosis pulmonalis

                                                            Cacat septum ventikel à aorta

                                                            Ketidakjenuhan darah arteri

                                                         Sianosis menetap


3.       MANIFESTASI KLINIS
a.       Sianosis
Obstruksi aliran darah keluar ventrikel kanan à hipertropi infundibulum meningkat à obstruksi meningkat disertai pertumbuhan yang semakin meningkat à sianosis.
b.      Dispnea
Terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik.
c.       Serangan-serangan dispnea paroksimal (serangan-serangan anoksia biru)
Semakin bertambah usia, sianosis bertambah berat à umum pada pagi hari.
d.       Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan
Gangguan pada pertambahan tinggi badan terutama pada anak, keadaan gizi kurang dari kebutuhan normal, pertumbuhan otot-otot dari jaringan subkutan terlihat kendur dan lunak, masa pubertas terlambat.
e.       Denyut pembuluh darah normal
Jantung baisanya dalam ukuran normal, apeks jantung jela sterlihat, suatu getaran sistolis dapat dirasakan di sepanjang tepi kiri tulang dada, pada celah parasternal 3 dan 4.
f.        Bising sistolik
Terdengar keras dan kasar, dapat menyebar luas, tetai intensita sterbesar pada tepi kiri tulang dada.

4.       DIAGNOSIS
a.       Foto rontgen           
b.       ECG
c.       Kateterisasi jantung dan angiokardiografi.
d.       Ventrikulografi kanan selektif.
e.       Ventrikulografi kiri.

5.       PENGOBATAN
a.       Oksigenasi
b.       Prostaglandin E1 à relaksan kuat untuk melebarkan duktus arteriosus à aliran darah pulmonal memadai.
c.       Pencegahan hipotermia, dehidrasi
d.       Pintasan Blalock-Taussig à menyambung arteri subklavia ke cabang arteri pulmonalis homolateral.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS GANGGUAN KARDIOVASKULER: TETRALOGI FALLOT


ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KARDIOVASKULER:
TETRALOGI FALLOT



A.      KONSEP PENYAKIT
1.       DEFINISI
Adalah suatu penyakit jantung congenital dengan sianosis yang merupakan kombinasi dari 4 gejala utama yaitu: (1) obstruksi aliran ke luar dari bilik kanan (stenosis pulmonalis), (2) cacat septum ventrikel, (3) posisi sebelah kanan dari aorta dan (4) hipertrofi ventrikel kanan bersama – sama membentuk tetralogi fallot.

2.       PATOFISIOLOGI

Pengembalian vena sistemis
 


   Atrium kanan                      Ventrikel kanan
 


                          Menguncup à   stenosis pulmonalis

                                                            Cacat septum ventikel à aorta

                                                            Ketidakjenuhan darah arteri

                                                         Sianosis menetap


3.       MANIFESTASI KLINIS
a.       Sianosis
Obstruksi aliran darah keluar ventrikel kanan à hipertropi infundibulum meningkat à obstruksi meningkat disertai pertumbuhan yang semakin meningkat à sianosis.
b.      Dispnea
Terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik.
c.       Serangan-serangan dispnea paroksimal (serangan-serangan anoksia biru)
Semakin bertambah usia, sianosis bertambah berat à umum pada pagi hari.
d.       Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan
Gangguan pada pertambahan tinggi badan terutama pada anak, keadaan gizi kurang dari kebutuhan normal, pertumbuhan otot-otot dari jaringan subkutan terlihat kendur dan lunak, masa pubertas terlambat.
e.       Denyut pembuluh darah normal
Jantung baisanya dalam ukuran normal, apeks jantung jela sterlihat, suatu getaran sistolis dapat dirasakan di sepanjang tepi kiri tulang dada, pada celah parasternal 3 dan 4.
f.        Bising sistolik
Terdengar keras dan kasar, dapat menyebar luas, tetai intensita sterbesar pada tepi kiri tulang dada.

4.       DIAGNOSIS
a.       Foto rontgen           
b.       ECG
c.       Kateterisasi jantung dan angiokardiografi.
d.       Ventrikulografi kanan selektif.
e.       Ventrikulografi kiri.

5.       PENGOBATAN
a.       Oksigenasi
b.       Prostaglandin E1 à relaksan kuat untuk melebarkan duktus arteriosus à aliran darah pulmonal memadai.
c.       Pencegahan hipotermia, dehidrasi
d.       Pintasan Blalock-Taussig à menyambung arteri subklavia ke cabang arteri pulmonalis homolateral.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS LIMFADENINTIS TUBERKULOSIS


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK USIA 5 TAHUN
 DENGAN LIMFADENINTIS TUBERKULOSIS

PENGERTIAN
Tuberkolosis yang terjadi pada kelenjar superfisial yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis, terjadi dalam 6 bulan pertama setelah terjadi infeksi sebagai akibat penyebaran limfogen dan atau hematogen, biasanya multipel.

ASKEP tbparu-anak                                                                   

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN RESPIRATORY DISTRESS SYDROME (RDS)


HYALINE MEMBRANE DISEASE – RESPIRATORY DISTRESS SYDROME (RDS)

I.          DEFINISI

Dikenal juga sebagai respiratory distress sydrom yang idiopatik, hyaline membrane disease merupakan keaadaan akut yang terutama ditemukan pada bayi prematur saat lahir atau segera setelah lahir, lebih sering pada bayi dengan usia gestasi dibawah 32 yang mempunyai berat dibawah 1500 gram. Kira-kira 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu mengalami RDS.

Bangunan paru janin dan produksi surfactan penting untuk fungsi respirasi normal. Bangunan paru dari produksi surfaktan bervariasi pada masing-masing bayi. Bayi prematur lahir sebelum produksi surfactan memadai. Surfactan, suatu senyawa lipoprotein yang mengisi alveoli, mencegah alveolar colaps dan menurunkan kerja respirasi dengan menurunkan tegangan permukaan. Pada defisiensi surfactan, tegangan permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya komplians paru, yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar  sehingga terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan acidosis respiratory. Reduksi pada ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi sirkulasi paru menjadi buruk, menyebabkan keadaan hipoksemia. Hipoksia jaringan dan acidosis metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan kegagalan pernafasan yang progresif.

RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi prematur, biasanya setelah 3 – 5 hari. Prognosanya buruk jika support ventilasi lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.

II.       ETIOLOGY DAN FAKTOR PRESIPITASI

-         Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu) dan tidak adanya, gangguan atau defisiensi surfactan
-         Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar
-         Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur atau prematur.

III.    PENGKAJIAN

Riwayat maternal
-         Menderita penyakit seperti diabetes mellitus
-         Kondisi seperti perdarahan placenta
-         Tipe dan lamanya persalinan
-         Stress fetal atau intrapartus

Status infant saat lahir
-         Prematur, umur kehamilan
-         Apgar score, apakah terjadi aspiksia
-         Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar

Cardiovaskular
-         Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat
-         Murmur sistolik
-         Denyut jantung dalam batas normal

Integumen
-         Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi periferal
-         Pitting edema pada tangan dan kaki
-         Mottling

Neurologis
-         Immobilitas, kelemahan, flaciditas
-         Penurunan suhu tubuh

Pulmonary
-         Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x )
-         Nafas grunting
-         Nasal flaring
-         Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
-         Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral)  berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin
-         Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUSBAYI PREMATUR


ASUHAN KEPERAWATAN BAYI PREMATUR



Definisi :
Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran disebut dengan bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit.

Masalah yang umum terjadi diantaranya respiratory disstres syndrom (RDS), enterocolitis nekrotik, hiperbilirubinemia, hypoglikemia, thermoregulation, patetnt duktus arteriosus (PDA), edema paru, perdarahan intraventrikular. Stressor tambahan lain pada infant dan orangtua meliputi hospitalisasi untuk penyakit pada bayi. Respon orangtua dan mekanisme koping mereka dapat menimbulkan gangguan pada hubungan antar mereka. Diperlukan perencanaan dan tindakan yang adekuat untuk permasalahn tersebut.

Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus.

Etiologi dan faktor presipitasi:
Permasalahan pada ibu saat kehamilan :
-          Penyakit/kelainan  seperti hipertensi, toxemia, placenta previa, abruptio placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus.
-          Tingkat sosial ekonomi yang rendah dan prenatal care yang tidak adekuat
-          Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi
-          Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol, merokok dan caffeine

Pengkajian

1.      Riwayat kehamilan
2.      Status bayi baru lahir
3.      Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi :
v     Kardiovaskular
v     Gastrointestinal
v     Integumen
v     Muskuloskeletal
v     Neurologik
v     Pulmonary
v     Renal
v     Reproduksi
4.      Data penunjang
-          X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas
-          Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ
-          Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa
-          Kadar kalsium serum, penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia
-          Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia)
-          Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah, urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya.